KANDUNGAN SENYAWA KIMIA, UJI TOKSISITAS (Brine Shrimp Lethality Test) DAN ANTIOKSIDAN (1,1-diphenyl-2-pikrilhydrazyl) DARI EKSTRAK DAUN SAGA (Abrus precatorius L.)

KANDUNGAN SENYAWA KIMIA, UJI TOKSISITAS (Brine Shrimp Lethality
Test) DAN ANTIOKSIDAN (1,1-diphenyl-2-pikrilhydrazyl) DARI EKSTRAK
DAUN SAGA (Abrus precatorius L.)

Juniarti*), Delvi Osmeli, dan Yuhernita
Bagian Kimia, Fakultas Kedokteran, Universitas YARSI, Jakarta 10510, Indonesia

Abstrak
Efek sitotoksik dan aktivitas antioksidan dari tanaman saga (Abrus Precatorius L.) telah dipelajari dengan metode Brine
Shrimp Lethality Test dan 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil. Daun saga diekstrak dengan pelarut yang berbeda seperti nheksan, etil asetat dan metanol. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak metanol mempunyai potensi sitotoksik terhadap larva udang dengan nilai LC50 606,736 ppm. Sedangkan aktivitas antioksidan dari semua ekstrak tidak aktif.

Abstract
Chemical Compound Gynecology, ToxinTest (Brine Shrimp Lethality Test) and Antioxidants (1,1-Diphenyl-2-Pikrilhydrazyl) from Saga Leaf Extract (Abrus Precatorius L.). Cytotoxicity effects and antioxidant activities of saga (Abrus precatorius L.) extract were studied by using Brine Shrimp Lethality Test and 1,1-diphenyl-2-pikrilhydrazyl assays. Saga was extracted with different solvents i.e n-hexane, ethyl acetate and methanol. Result showed that the methanolic extract of saga had been potential to be cytotoxic againts Brine Shrimp with LC50 value of 606.736 ppm. However, all the extract of saga did not have antioxidant activities.
Keywords: cytotoxic effects, antioxidant activities, Abrus precatorius L. extract

1. Pendahuluan
Penelitian dengan menggunakan daun saga belum banyak dilaporkan. Dari beberapa literatur diketahui bahwa daun saga juga mengandung abrin yang bersifat sangat toksik, padahal daun saga banyak dimanfaatkan secara tradisional untuk mengobati berbagai penyakit. Berdasarkan fakta di atas maka salah satu focus penelitian ini adalah untuk mengetahui toksisitas daun saga. Selain abrin, pada daun saga juga terdapat senyawa flavonoid dan glisirhizin yang telah diketahui mempunyai aktivitas sebagai antioksidan [1-2]. Saga (Abrus Precatorius L.) merupakan tanaman yang banyak digunakan secara tradisional sebagai obat di banyak negara, diantaranya untuk mengobati epilepsi, batuk dan sariawan [3]. Tanaman ini merupakan tanaman merambat yang biasa tumbuh liar di hutan, ladang, halaman dan tempat lain pada ketinggian 300
sampai 1000 m dari permukaan laut [1].

Dari literatur yang ada diketahui bahwa tumbuhan saga mengandung flavonoid [4], bagian antena dari saga mengandung isoflavanquinone dan abruquinone B (1) yang aktif sebagai antitubercular, antiplasmodial dan abruquinone G (2) yang aktif sebagai antiviral dan punya sifat toksisitas [5]. Biji saga mengandung flavonol glukosida [6], proksimat dan protein yang kaya akan asam amino esensial [7]. Biji saga juga kaya akan senyawa abrin yang dapat menyebabkan apoptosis terhadap kultur sel leukemia [8]. Tanaman lain yang satu genus dengan saga juga telah banyak diteliti seperti Abrus aglutinin yang dapat digunakan sebagai immunostimulant [9], potensial sebagai immunomodulator, baik yang masih alami
maupun yang sudah terdenaturasi karena panas [10-12].

Abrus cantoneinsis juga dilaporkan banyak mengandung senyawa flavonoid pada akar dan daunnya, disamping itu Abrus pulchellus juga banyak dilaporkan karena dapat berfungsi sebagai immunoconjugates dan potensial sebagai therapeutic agent dan memberikan respon imun non spesifik secara in vitro [12].

Peranan antioksidan sangat penting dalam meredam efek radikal bebas yang berkaitan erat dengan terjadinya penyakit degeneratif seperti tekanan darah tinggi, jantung koroner, diabetes dan kanker yang didasari oleh proses biokimiawi dalam tubuh. Radikal bebas yang dihasilkan secara terus menerus selama proses metabolisme normal, dianggap sebagai penyebab terjadinya kerusakan fungsi sel-sel tubuh yang akhirnya menjadi pemicu timbulnya penyakit degeneratif [13]. Reaksi radikal bebas secara umum dapat dihambat oleh antioksidan tertentu baik alami maupun sintetis. Sebahagian besar antioksidan alami berasal dari tanaman, antara lain berupa senyawaan tokoferol, karatenoid, asam askorbat, fenol, dan flavonoid [14].

Senyawa bioaktif hampir selalu toksik pada dosis tinggi, oleh karena itu daya bunuh in vivo dari senyawa terhadap organisme hewan dapat digunakan untuk menapis ekstrak tumbuhan yang mempunyai bioaktivitas dan juga memonitor fraksi bioaktif selama fraksinasi dan pemurnian. Salah satu organisme yang sesuai untukhewan uji adalah brine shrimp (udang laut) [15].

DOWNLOAD FULL PAGE : KLIK HERE


BUY SOMETING : KLIK THIS PICTURE

Subscribe to receive free email updates:

Post a Comment